Oleh:
Dr. Adityawarman Adil, S.Si, M.Si – Ketua DPRD Kota Bogor
Tanggal 3 Mei diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia, merupakan pengingat perjuangan panjang insan pers dalam menyuarakan kebenaran, tetapi juga menjadi panggilan moral bagi seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga ruang kebebasan berekspresi di negeri ini. Dalam konteks lokal seperti Kota Bogor, peran pers menjadi semakin penting di tengah gempuran informasi digital dan dinamika sosial politik yang terus berkembang.
Pers adalah pilar keempat demokrasi. Ia tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga aktor penting dalam mengawal jalannya pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel. Dalam menjalankan fungsi legislasi pembuat peraturan daerah, penganggaran, dan pengawasan, lembaga legislatif seperti DPRD membutuhkan mitra kritis yang independen dan memiliki keberanian untuk menyampaikan fakta. Di sinilah peran vital pers berada, sebagai jembatan antara rakyat dan penyelenggara negara, sekaligus sebagai penjaga nurani publik.
Namun kita tidak menutup mata bahwa kebebasan pers di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Menurut catatan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), hingga awal Mei 2025 sudah tercatat 40 kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia. Angka ini tidak hanya merepresentasikan risiko fisik yang dihadapi wartawan, tetapi juga mencerminkan masih lemahnya jaminan perlindungan hukum bagi kerja jurnalistik yang independen dan kritis.
Di sisi lain, fenomena disinformasi dan polarisasi di media sosial turut memperkeruh peran pers yang sesungguhnya. Banyak informasi tidak benar beredar dengan kecepatan luar biasa dan sering kali disamakan nilainya dengan karya jurnalistik yang melalui proses verifikasi, peliputan langsung, dan kode etik ketat. Kondisi ini mengaburkan batas antara kebenaran dan kebohongan, antara opini dan fakta, antara wartawan dan buzzer.
Sebagai Ketua DPRD Kota Bogor, saya melihat bahwa ruang partisipasi publik yang sehat membutuhkan media yang sehat. Kota Bogor dengan penduduk lebih dari satu juta jiwa, dengan karakter masyarakatnya yang heterogen dan dinamis, membutuhkan pers yang tidak sekadar menjadi pembawa berita, tetapi juga menjadi penyambung aspirasi dan pengawas kebijakan publik. Pemerintah kota dan DPRD tidak boleh alergi terhadap kritik. Justru kritik adalah vitamin demokrasi yang mendorong kami terus memperbaiki diri dan menghindari kekeliruan dalam menjalankan amanah rakyat.
Oleh karena itu, kami terus berupaya membangun sinergi dengan insan pers di Kota Bogor. Banyak forum komunikasi telah kami lakukan, baik dalam bentuk konferensi pers rutin, dialog kebijakan, maupun kerja sama dalam penyebarluasan informasi kebijakan DPRD. Kami juga mendorong agar jurnalis lokal mendapatkan pelatihan berkelanjutan, baik dalam aspek keterampilan jurnalistik maupun pemahaman kebijakan publik, agar mereka dapat menyampaikan informasi dengan akurat, tajam, dan berimbang.
Namun sinergi ini tidak berarti relasi yang saling menyenangkan semata. Kami sadar, media yang benar-benar independen tidak akan selalu menyenangkan bagi penguasa. Tapi justru karena itu, keberadaannya penting. Di tengah suasana politik yang sering kali penuh kepentingan, pers yang independen menjadi tembok terakhir bagi tegaknya integritas dan kebenaran di ruang publik.
Di era digital saat ini, tantangan bagi pers lokal juga semakin kompleks. Pendapatan iklan menurun, platform digital mendominasi, dan banyak media terpaksa menyesuaikan diri dengan selera pasar yang sering kali dangkal. Banyak media kecil di daerah yang bertahan dengan sumber daya minim, tetapi tetap teguh menjaga independensinya. Mereka adalah pahlawan-pahlawan sunyi yang perlu kita dukung dan perkuat. Pemerintah kota dapat menjadikan dukungan terhadap keberlanjutan media lokal sebagai bagian dari strategi komunikasi publik yang sehat, tentu tanpa intervensi pada kebebasan redaksional.
Saya juga mengajak seluruh warga Kota Bogor untuk menjadi konsumen informasi yang cerdas. Jangan mudah percaya pada berita-berita yang belum jelas sumbernya. Jangan menjadi bagian dari penyebar kebohongan. Mari kita biasakan membaca dari sumber yang terpercaya dan mendukung jurnalisme berkualitas. Jika kita ingin demokrasi tumbuh sehat, kita harus mulai dari kebiasaan bermedia yang sehat pula.
Dalam kesempatan ini, saya juga ingin memberikan apresiasi kepada seluruh wartawan yang selama ini telah membantu menyuarakan dinamika Kota Bogor, dari hal-hal besar seperti pembangunan infrastruktur dan anggaran daerah, hingga hal-hal sederhana seperti kisah inspiratif warga dan tradisi lokal. Berkat Anda semua, wajah Kota Bogor menjadi lebih terbuka, lebih dikenal, dan lebih terhubung dengan warganya sendiri.
Hari Kebebasan Pers Sedunia adalah momen penting bagi kita untuk tidak hanya mengenang jasa para jurnalis dan pejuang kebebasan berekspresi, tetapi juga untuk melindungi masa depan demokrasi kita. Kebebasan pers tidak akan bertahan jika hanya diserahkan pada media saja. Ia butuh komitmen dari semua pihak: dari pembuat kebijakan, dari masyarakat sipil, dari institusi pendidikan, dan tentu dari kita semua sebagai warga negara yang mencintai kebenaran.
Mari kita jadikan momentum ini sebagai titik tolak untuk memperkuat peran pers sebagai mitra demokrasi. Di Kota Bogor, kami berkomitmen untuk terus membuka ruang dialog, menerima kritik, dan memperkuat kolaborasi dengan media sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan yang transparan dan partisipatif. Kita ingin membangun Kota Bogor yang bukan hanya indah secara fisik, tetapi juga sehat dalam iklim demokrasi dan ekosistem informasinya.
Semoga Hari Kebebasan Pers Sedunia tahun ini tidak berhenti sebagai seremonial tahunan, tetapi menjadi pengingat abadi bahwa suara kebenaran harus selalu dijaga, dibela, dan diperjuangkan. Untuk Kota Bogor yang lebih terbuka, dan untuk Indonesia yang lebih demokratis.

